Laporan Apresiasi Lomba Pidato Bahasa Indonesia (15 AGUSTUS 2016 – 20 AGUSTUS 2016) oleh Yang Sheng – NUS

3-w1200-h800

Laporan Apresiasi Lomba Pidato Bahasa Indonesia (15 AGUSTUS 2016 – 20 AGUSTUS 2016) oleh Yang Sheng – NUS

Hari Pertama

Saya meninggalkan Singapura dengan Choon Hong dan sampai di Jakarta sekitar pukul 1 siang. Seterusnya kami bertemu staf dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang membawa kami ke Hotel Millenium Sirih.

Saya diberitahu tentang penjelasan program kegiatan dan pengarahan oleh Pimpinan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (PKLN) pada malam itu, tapi saya masih ada beberapa jam sebelum acara itu. Jadi, saya berjalan kaki ke Sarinah dan Tanah Abang untuk membeli kemeja batik. Walaupun Singapura dekat Indonesia dan mudah mencari toko yang menjual batik, itu sangat mahal dan pilihan polanya amat terbatas.

Saya butuh waktu lama untuk memilih kemeja disukai saya. Akhirnya saya membeli dua buah kemeja dan makan McDonald’s di Sarinah. Jangan tertawa—McDonald’s Indonesia ada Burger Sate, sejenis perasaan yang tidak ada di Singapura, dan enak sekali! Apalagi Paket Hematnya termasuk Teh Soda Markisa, tidak terlalu manis dan bersemburat asam, asyiknya! #RasaKitaIndonesia

Dalam perjalanan ke Sarinah dari Tanah Abang, saya melewati Monumen Selamat Datang di tengah Bundaran Hotel Indonesia. Monumen ini menggambarkan rakyat Indonesia sebagai sebangsa yang menyambut orang-orang dari seluruh dunia. Saya percaya rakyat Indonesia pastinya merasa bangga untuk keterbukaan budayanya sebab ini menunjukkan kepercayaan bangsanya menghadapi pengaruh dan tantangan dari luar negeri.

Oh, saya juga menjumpai iring-iringan kepresidenan dan menteri-menteri di Monumen itu! Untungnya bisa melihat bukan hanya mobil Presiden tapi juga menterinya.

Makan malam di Hotel Millenium sangat mewah dan tradisional. Saya rasakan berbagai hidangan dan sayuran seperti lalapan, asinan dan pempek. Makanan favorit saya adalah lalapan. Lalapan adalah sayur-sayuran mentah digunakan antara lain selada, kacang panjang, timun, tomat, daun singkong dan buah terong hijau, disajikan dengan sambal terasi tomat. Saya suka hidangan ini sebab saya suka makan pedas. Kalau makanan saya tidak cukup pedas, itu akan terasa hambar.

Penjelasan malam itu singkat. Saya bertemu dengan pemenang lomba pidato dari negara lain dan kami harus mengenalkan diri sewaktu penjelasan ini. Kami masing-masing juga diberi kartu SIM oleh Kemdikbud. Baiknya kesejahteraan diterima kami!

Hari Kedua

Setelah sarapan di Hotel Millenium, para peserta menuju ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) untuk kunjungan budaya. Pemandu wisata menjelaskan berbagai adat dan gaya arsitektur di seluruh Indonesia. Di dalam TMII, kami bisa lihat miniatur gedung-gedung dan perumahan setempat dari setiap provinsi Indonesia, misalnya tongkonan, sejenis rumah adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung seperti perahu dan di depan rumahnya terdapat deretan tanduk kerbau sepanjang tiang bambu yang mendukung atap. Pemandu wisata juga memperkenalkan upacara pemakaman suku Toraja kepada kami. Ritualnya paling penting dan berbiaya mahal di dalam masyarakat Toraja. Semakin kaya atau berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal, dan tempat penguburan mereka (tau-tau) terletak di dalam gua. Adat dan tradisi diperkenalkan termasuk fahombo, sejenis ritual pendewasaan Suku Nias, dan tradisi pelangkah suku Batak untuk penguburan mereka.

Setelah makan siang, kami mengunjungi Museum Nasional. Kami tidak bisa berkeliling seluruh gedungnya sebab kendala waktu, tetapi kunjungan ini masih setimpal karena ini telah mempertinggi kesadaran budaya Indonesia kami. Tema wisata kami di dalam museum ialah etnografi dan gaya hidup rakyat Indonesia.

Galeri etnografi di Museum Nasional diatur sesuai dengan provinsi dan setiap provinsi atau daerah mempunyai budaya yang unik. Contohnya debus, sejenis kesenian tradisional Banten terutama orang Sunda, yang mempertunjukkan kemampuan manusia yang luar biasa, seperti melukakan diri dengan senjata tajam. Menurut pemandu wisata, museum ini mengoleksi 61.600 buah artefak prasejarah dan antropologi, yang terkaya dan terlengkap di Asia Tenggara.

Melalui kunjungan TMII dan Museum Nasional saya mendapatkan banyak pengetahuan yang tidak bisa dicapai di Singapura. Walaupun Singapura juga sebuah negara yang bermacam-macam suku bangsa dan agama, keanekaragaman Indonesia masih mengherankan saya. Indonesia memang negara beranekaragam dan luas, dan untuk sebagian besar saya setuju bahwa Indonesia telah mencapai persatuan nasional yang kuat. Barangkali penggunaan Bahasa Indonesia membantu untuk mencapai prestasi ini sebab “Bahasa Mewujudkan Bangsa” (disalin dari selembar poster di dalam TMII)?

Gala Dinner malam itu lebih menarik sebab Pak Daryanto, Inspektur Jenderal Kemdikbud, mulai pidatonya dengan pantun. Dia dan Ir. Suharti, Kepala Biro PKLN, menjelaskan sebab-sebab mengorganisir lomba pidato di seluruh dunia dan memberi kami masing-masing buku Bahasa Indonesia. Saya menerima buku Laskar Pelangi! Malam itu berakhir dengan pertunjukan tarian, musik tradisional dan dangdut.

Hari Ketiga

Kami bangun pada pukul 4 pagi untuk mempersiapkan kunjungan ke Istana Kepresidenan Jakarta. Kami harus memakai pakaian formal atau kostum etnis. Saya memilih pakaian formal sebab hari keempat harus sampai ke sini lagi—saya bisa memakai kostum etnis besok!

Setelah pemeriksaan keamanan yang ketat, kami menuju halaman Istana Kepresidenan. Sepanjang jalan kami menikmati pertunjukan dari rombongan Dayak dan mendapati panggung kesenian tradisional khas Jawa Timur di selasar. Tidak hanya musik, panggung seni yang ini juga diisi dengan tarian adat Jawa oleh murid-murid SD dari Jawa Timur.

Upacara itu berlangsung selama sekitar dua jam dan termasuk banyak pertunjukan budaya. Pertunjukan favorit saya adalah lagu ini berjudul “Medley Nusantara”. Lagu ini dilakukan Gita Bahana Nusantara, dirupakan perwakilan putra-putri terbaik dari seluruh provinsi di Indonesia yang terdiri dari paduan suara dan orkestra dan termasuk bagian lagu-lagu Papua (Waninggap Nanggo), Jawa Barat (Sabilulungan), Kalimantan Tengah (Antang Ngambun) dan lain-lain, saya percaya lagu ini bisa meningkatkan persatuan bangsa dan merayakan sukacita kemerdekaan.

Tentu saja, upacara kemerdekaan di seluruh dunia selalu ada parade militer. Walaupun formasi parade tidak besar (mungkin sebab ulang tahun ini tidak kelipatan lima), tetapi parade ini sangat rapi dan berdisiplin. Setiap peserta terlihat terlatih dan khususnya saya terkesan dengan formasi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) sebab mereka sangat muda tetapi bisa mengambil tugas terhormat seperti membawa Sang Saka Merah Putih.

Pada sore kami pergi ke Thamrin City untuk perbelanjaan. Saya membeli sebuah kemeja batik lagi, kemeja ini berpola daun singkong dan berlengan panjang. Saya juga membeli empat buah buku novel Tetralogi Buru oleh Pramoedya Ananta Toer dari toko buku di dalam Thamrin City. Sewaktu kursus Bahasa Indonesia saya di Universitas Nasional Singapura, saya telah membaca buku pertamanya, Bumi Manusia. Jadi saya ingin menyelesaikan seluruh tetralogi itu sebab tetralogi ini mengungkapkan sejarah pembentukan nasionalisme pada awal kebangkitan nasional Indonesia.

Seperti biasa, perempuan-perempuan perlu lebih waktu untuk membelanja, tapi saya telah membeli apa saja diperlu saya. Saya masih ada 30 menit, jadi saya menyelinap keluar Thamrin City ke Grand Indonesia. Grand Indonesia memang “grand”—besar sekali! Toko-tokonya lebih modern (tentu saja pun lebih mahal) daripada Thamrin City, dan saya melihat-lihat saja di dalam pusat pembelanjaan ini. Saya telah ingat apa saja saya perlu dari sini, saya pasti kembali ke sini jikalau saya mendapat cukup uang!

Makanan hari ini sangat khusus. Makan siang kami di Restoran Serbaraso, sebuah rantai restoran masakan Padang. Kami makan malam di Warung Tekko, dekat Restoran Serbaraso, di Kebon Kelapa. Lauk-pauk setempat disajikan termasuk Gurami Bakar Cabe, Ayam Gorang Bumbu dan lain-lain. Enaknya makanan hari ini!

Hari Keempat

Kami menuju ke Istana Kepresidenan Jakarta lagi untuk Acara Silaturahim Nasional Hari Ulang Tahun Ke-71 Proklamasi Kemerdekaan RI. Kali ini kami dilarang membawa kamera ke dalam Istana. Interior Istana Kepresidenan sangat besar dan mewah, potret-potret besar Presiden RI tergantung di dinding dan peta besar Nusantara terletak di depan ruang ini.

Tema upacara kemerdekaan tahun ini adalah “Kerja Nyata”, jadi Presiden Jokowi berpidato panjang tentang pentingnya menghormati tugas diri. Dia mengundang beberapa wakil dari berbagai daerah Indonesia untuk berbagi pengalaman mengatasi tantangan terhadap mereka. Saya ingat seorang kepala sekolah dari Nusa Tenggara Timur menjelaskan kesulitan pendidikan di desanya sebab desanya terpencil—dia perlu 6 jam dari Kupang, ibu kota provinsi itu.

Saya juga bertemu seorang anggota Paskibraka cantik, Melinnia Hilda Mareta dari Jawa Timur, di meja saya. Bahasa Inggerisnya sangat pintar dan tindakannya anggun sekali. Tak heran dia dipilih sebagai anggota Paskibraka. Duduk dengan saya juga ada seorang Laksamana TNI-AL dan wakil-wakil siswa berprestasi.

Kami meninggalkan Istana Kepresidenan pada pukul 1 siang ke Yogyakarta. Ketika kami sampai Yogyakarta saya bisa merasakan perbedaannya cara hidup Yogyakarta dan Jakarta. Kehidupan di Jakarta lebih cepat dan stres tapi di Yogyakarta kami mampu untuk mengambil waktu kami sendiri.

Setelah check-in di Hotel Meliá Purosani kami menuju ke Candi Prambana untuk makan malam dan Sendratari Ramayana Prambanan. Walaupun nama pertunjukan ini diterjemahkan “Ballet”, itu bukan tarian Barat tapi tarian tradisional. Kami sangat beruntung sebab kami diatur duduk di baris pertama, jadi saya bisa menonton pertunjukan ini tanpa penghalang. Kami juga bernasib baik karena malam itu berbulan purnama, jadi cerita Ramayana penuh ditunjukkan. Cerita Ramayana adalah perjalanan Rama menyelamatkan istrinya Sita yang diculik oleh raja Negara Alengka, Rahwana. Musik dan nyanyian Bahasa Jawa melengkapi tarian tradisional itu dan saya akan menyarankan pertunjukan ini kepada teman-teman saya.

Hari Kelima

Pagi hari kelima kami menuju ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Yang pertama, Ketua Jurusan Etnomusikologi Pak Haryanto mendemonstrasikan cara menggunakan kemanak. Kemanak adalah sebuah alat musik pukul gamelan kraton yang terbuat dari gangsa dan berbentuk pisang. Melalui demonstrasi ini, Pak Haryanto menjelaskan arti karawitan dan mengenalkan jurusan karawitan di ISI Yogyakarta.

Kemudian, kami mengikuti sukarelawan mahasiswanya ke jurusan etnomusikologi. Di ruang kelasnya, kami memiliki kesempatan mencoba alat-alat musik seperti gender dari Suku Bali atau kacapi dari Suku Sunda. Menariknya bisa mencoba alat musik yang unik dan berbeda dari apa saja kami ada di Singapura!

Seterusnya kami mengunjungi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bangunan-bangunan Kraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional. Di beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Tiongkok.

Saya merasa mulianya sultan mereka sebab beliau bersedia berbagi kraton dengan rakyat supaya mereka bisa dididik budaya setempat dan membuat kraton menjadi tempat wisata untuk Yogyakarta.

Sore itu kami menuju ke Candi Prambanan lagi untuk melawat di dalam candi-candinya. Menurut pemandu wisata, Candi Prambanan dibangun pada abad ke-9 dan dipersembahkan untuk Trimurti, ialah dewa Brahma, Wishnu dan Siwa. Trimurti ini mewakili pencipta, pemelihara dan pemusnah masing-masing. Arsitektur candi-candi ikut gaya Hindu dan sekarang wilayah ini menjadi situs warisan dunia UNESCO.

Hari Keenam

Saya harus kembali ke Singapura dulu sebab saya harus menghadiri sebuah acara, jadi saya kembali ke Jakarta dengan pemenang lomba pidato dari Thailand. Dari Bandara Soekarno-Hatta, saya menaiki bus sendiri ke Gambir, dekat Monumen Nasional (Monas). Seterusnya saya membeli kartu prabayar Busway dan menaiki Busway ke Glodok, Pecinan di kota lama Jakarta. Bis itu sangat ramai tapi lebih baik daripada macet di jalan raya.

Saya jalan kaki di sekeliling Glodok. Saya tertarik pada warisan suku Tionghoa sebab saya belajar tentang perpindahan manusia di dalam kursus saya, jadi saya bertemu sebuah kelenteng Tionghoa bernama Kelenteng Jin De Yuan. Kuil ini dibangun lebih dari 350 tahun yang lalu dan tempat ini juga menjadi pusat kekuasaan masyarakat Tionghoa sebelum Perang Dunia II. Sampai hari ini, dindingnya masih ada prasasti tercatat dana mayor atau letnan masyarakat Tionghoa pada zaman Batavia.

Kemudian saya terus ke Kota Tua. Saya memasuki Museum Sejarah Jakarta, sebuah gedung bergaya neoklasik dan dibangun sebagai Balai Kota Batavia VOC pada 1710. Koleksinya termasuk artefak VOC di Asia (bukan Asia Tenggara saja tapi juga dari tempat-tempat lain Asia seperti Jepang dan Taiwan), artefak prasejarah Jakarta dan perabotan tradisional Betawi. Saya sesungguhnya memahami sejarah Jakarta tapi saya merasa kecewa kepada tindakan beberapa pengunjung setempat. Walaupun tanda “Jangan Sentuh” ditempatkan di mana-mana di dalam museum, banyak pengunjung masih menyentuh pameran. Barangkali waktu berikutnya saya datang ke Jakarta, fenomena ini bisa dikurangkan.

Saya mengakhiri perjalanan Indonesia saya di Stasiun Jakartakota. Dari sana say menaiki bis ke Bandara, seterusnya kembali ke Singapura. Melalui perjalanan ini saya bertemu banyak teman dari seluruh dunia dan memahami lebih banyak tentang budaya Indonesia. Saya juga mendapat kesempatan untuk menggunakan Bahasa Indonesia di Indonesia, bukan di dalam kelas sahaja. Jadi saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kedutaan Besar RI di Singapura dan Kemdikbud untuk dukungan mereka.

 

14344700_366417910412859_2815891656097269584_n-w1200-h800 14352389_366417883746195_9106852569077543003_o-w1200-h800 14372126_366417300412920_4027977301509574428_o-w1200-h800